Selain Dikubur dan Dikremasi, Kini Ada Pengomposan Jasad Manusia

Selain Dikubur dan Dikremasi, Kini Ada Pengomposan Jasad Manusia
Ilustrasi. Selain dikubur atau dikremasi, kini ada alternatif baru dalam proses pemakaman, yaitu pengomposan jasad manusia. Foto: Pexels.

Kurawalmedia, Tanjungpinang – Selain dikubur atau dikremasi, kini ada alternatif baru dalam proses pemakaman, yaitu pengomposan jasad manusia.

Metode ini mulai dilirik karena dianggap lebih ramah lingkungan dibandingkan cara konvensional.

Pengomposan jasad manusia pada dasarnya mengubahnya menjadi tanah dalam waktu yang relatif singkat.

Secara alami, proses ini sebenarnya juga terjadi saat seseorang dimakamkan, tapi metode ini mempercepat proses tersebut dengan sistem yang terkontrol.

Bacaan Lainnya

CEO Earth Funeral, Tom Harries, menjelaskan bahwa metode ini meniru proses alami seperti yang terjadi di hutan.

“Apa yang kami lakukan adalah mempercepat proses yang sepenuhnya alami,” ujarnya, dikutip dari CNN.

Pengomposan manusia dinilai punya dampak lingkungan yang lebih kecil.

Proses ini menghasilkan emisi karbon lebih rendah dibandingkan kremasi, dan tidak menggunakan bahan kimia seperti formaldehid yang biasa dipakai dalam pemakaman tradisional.

Salah satu keluarga yang memilih metode ini adalah Laura Muckenhoupt.

Ia mengomposkan jasad putranya, Miles, yang meninggal di usia 22 tahun.

“Kami akan membesarkannya. Kami akan terus menjadi orang tuanya, saudara perempuannya, dan teman-temannya,” ungkapnya.

Bagi Laura, tanah hasil pengomposan tersebut menjadi simbol kenangan sekaligus awal baru.

Tanah itu kemudian disebarkan dan ditanami di berbagai tempat, termasuk Indonesia dan Tuscany.

Bahkan, tanah tersebut digunakan untuk menanam pohon markisa di Portugal dan pakis di Hawaii.

“Setiap kali semak mawar itu mekar, Anda menantikannya dengan penuh harap,” katanya.
“Ini seperti sebuah hadiah, kunjungan kecil darinya, dan rasanya sangat indah,” tambahnya.

Dalam praktiknya, jasad dibungkus menggunakan kain yang mudah terurai, lalu ditempatkan dalam kapsul khusus berisi campuran bahan organik seperti serpihan kayu, jerami, dan bunga liar.

Menurut laporan National Geographic, mikroba aktif akan memecah tubuh secara alami dengan bantuan oksigen dan suhu yang dijaga stabil.

Proses ini melibatkan pelepasan nitrogen dari tubuh dan karbon dari bahan organik di sekitarnya.

Dalam waktu sekitar 45 hari, proses ini bisa menghasilkan sekitar 136 kilogram tanah yang kaya nutrisi.

Keluarga bisa menyimpan atau menggunakan tanah tersebut sesuai kebutuhan, sementara sebagian lainnya biasanya dialokasikan untuk proyek konservasi.

Ide pengomposan manusia muncul dari pengalaman panjang di industri pemakaman.

Harries menyebut, tidak semua orang merasa cocok dengan opsi dikubur atau dikremasi.

Di sisi lain, kremasi masih menjadi pilihan utama di beberapa negara.

Data dari Asosiasi Kremasi Amerika Utara menunjukkan sekitar 60 persen jenazah di Amerika Serikat dikremasi, meski proses ini membutuhkan energi besar dan berdampak pada emisi karbon.

Saat ini, praktik pengomposan manusia sudah dilegalkan di 12 negara bagian di Amerika Serikat, dan masih ada beberapa wilayah lain yang sedang membahas regulasi serupa.(*)

Editor: Brm

Pos terkait