Inovasi Nuklir dari BRIN dan ITB, Produksi Radioisotop Kini Lebih Praktis

Inovasi Nuklir dari BRIN dan ITB, Produksi Radioisotop Kini Lebih Praktis
Ilustrasi. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) menghadirkan inovasi baru dalam produksi radioisotop. Foto: Pixabay.

Kurawalmedia, Tanjungpinang – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) menghadirkan inovasi baru dalam produksi radioisotop.

Mereka mengembangkan teknologi dual-chamber atau ruang target ganda pada siklotron, yang memungkinkan produksi dua jenis radioisotop sekaligus dalam satu proses.

Inovasi teknologi ini, dua radioisotop penting, Fluorine-18 (F-18) dan Phosphorus-32 (P-32) bisa dihasilkan dalam satu kali iradiasi. Jadi, prosesnya jadi lebih ringkas dan efisien.

F-18 sendiri sudah banyak dipakai di dunia medis, terutama untuk deteksi kanker melalui metode Positron Emission Tomography (PET).

Bacaan Lainnya

Sementara itu, P-32 biasa digunakan untuk terapi kanker tertentu, serta mendukung riset di bidang biologi dan pertanian.

Selama ini, produksi F-18 menghasilkan neutron sekunder yang belum dimanfaatkan maksimal.

Lewat pendekatan dual-chamber, neutron tersebut dimanfaatkan kembali untuk memicu pembentukan P-32.

Hasilnya, proses produksi jadi lebih optimal tanpa banyak energi terbuang.

Dosen Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir) BRIN, Imam Kambali, menjelaskan bahwa inovasi ini membawa dampak langsung pada efisiensi sekaligus potensi penguatan layanan kesehatan.

“Kami memanfaatkan neutron sekunder untuk menghasilkan P-32. Dengan pendekatan ini, satu proses produksi dapat menghasilkan dua radioisotop sekaligus, sehingga lebih efisien dan optimal,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).

Berdasarkan simulasi menggunakan perangkat lunak PHITS dan DCHAIN, desain ini mampu menghasilkan F-18 sekitar 2,23 GBq/μAh dan P-32 sebesar 0,026 MBq/μAh.

Tingkat kemurniannya juga tinggi, mencapai lebih dari 99,9 persen, dengan kondisi optimal pada energi proton 13 MeV.

Selain efisiensi, aspek keamanan juga jadi perhatian utama.

Hasil analisis menunjukkan sistem target tetap aman digunakan dalam kondisi normal, tanpa risiko kerusakan akibat suhu tinggi atau tekanan berlebih.

“Analisis termal dan struktur menunjukkan bahwa sistem tetap aman dioperasikan pada arus 25 μA selama satu jam tanpa melampaui batas suhu maupun kekuatan material,” jelas Imam.

Ke depan, teknologi dual-chamber ini dinilai bisa jadi langkah penting dalam pengembangan produksi radioisotop di Indonesia.

Selain mempercepat proses, teknologi ini juga membuka peluang ketersediaan radioisotop yang lebih luas untuk kebutuhan diagnosis dan terapi medis.

“Ke depan, teknologi ini diharapkan dapat mendukung pengembangan layanan kesehatan yang lebih baik dan terjangkau, sekaligus memperkuat kemandirian teknologi kedokteran nuklir nasional,” ujarnya.

Penelitian berjudul A Novel Dual-Chamber Cyclotron Target for Simultaneous Production of F-18 and P-32 ini merupakan hasil kolaborasi antara Imam Kambali bersama Fabian Yoga Prastha dan Zaki Su’ud dari ITB.(*)

Editor: Brm

Pos terkait