Kenapa Harus Lihat Hilal untuk Tentukan Hari Raya Idulfitri? Ini Penjelasannya

Kenapa Harus Lihat Hilal untuk Tentukan Hari Raya Idulfitri? Ini Penjelasannya
Ilustrasi. Kementerian Agama telah menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah atau Hari Raya Idulfitri 2026 jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Keputusan ini diambil melalui sidang isbat yang menggabungkan metode hisab (perhitungan astronomi) dan rukyatul hilal (pemantauan bulan). Foto: Dok. Kemenag DKI Jakarta.

Kurawalmedia, Tanjungpinang – Kementerian Agama menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah atau Hari Raya Idulfitri 2026 jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Keputusan ini diambil melalui sidang isbat yang menggabungkan metode hisab (perhitungan astronomi) dan rukyatul hilal (pemantauan bulan).

Penentuan ini dilakukan berdasarkan hasil perhitungan posisi bulan serta pengamatan hilal dari berbagai titik di seluruh Indonesia.

Apa Itu Hilal?

Hilal adalah fase bulan sabit muda pertama yang terlihat setelah terjadi konjungsi atau ijtimak, yaitu ketika bulan berada sejajar dengan matahari. Kemunculan hilal biasanya diamati saat matahari terbenam.

Baca juga: Kemarau 2026 Datang Lebih Cepat, Tapi Bisa Jadi Rezeki untuk Nelayan

Bacaan Lainnya

Dalam kalender Hijriah, pemantauan hilal dilakukan setiap tanggal 29 untuk menentukan apakah bulan baru sudah dimulai atau masih harus digenapkan menjadi 30 hari, yang disebut dengan istilah istikmal.

Karena bentuknya sangat tipis dan posisinya dekat dengan matahari, hilal sering kali sulit dilihat dengan mata telanjang. Oleh karena itu, pengamatan biasanya menggunakan alat bantu seperti teleskop.

Kenapa Hilal Penting?

Hilal menjadi penanda dalam menentukan awal bulan Hijriah, terutama untuk bulan-bulan penting seperti Ramadan, Syawal (Idulfitri), dan Dzulhijjah (Iduladha).

Jika hilal terlihat, maka keesokan harinya sudah masuk bulan baru. Jika tidak terlihat, maka bulan berjalan digenapkan menjadi 30 hari.

Baca juga: Mengapa Orang Indonesia Selalu Mudik? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Peran MABIMS dalam Penentuan Hilal

Indonesia menggunakan standar yang disepakati bersama negara-negara Asia Tenggara melalui forum MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).

Dalam kesepakatan terbaru, hilal dinyatakan memenuhi kriteria jika memiliki tinggi minimal 3 derajat dan sudut elongasi minimal 6,4 derajat.

Standar ini mulai diterapkan sejak 2022, menggantikan kriteria sebelumnya yang lebih rendah.

Baca juga: Bukan Cuma Ketupat, Ini 7 Tradisi Lebaran di Indonesia yang Jarang Diketahui

Dengan adanya kriteria hisab dan rukyatul hilal, penentuan Idulfitri maupun awal bulan Hijriah diharapkan lebih seragam dan bisa menjadi acuan bersama di kawasan Asia Tenggara.(*)

Editor: Brm

Pos terkait