Bukan Cuma Ketupat, Ini 7 Tradisi Lebaran di Indonesia yang Jarang Diketahui

Bukan Cuma Ketupat, Ini 7 Tradisi Lebaran di Indonesia yang Jarang Diketahui
Ilustrasi. Setiap perayaan Idulfitri di Indonesia selalu memiliki nuansa yang khas. Selain identik dengan momen saling memaafkan dan berkumpul bersama keluarga, Lebaran juga menjadi waktu untuk menikmati beragam tradisi budaya yang tersebar di berbagai daerah. Foto: Pexels.

Kurawalmedia, Tanjungpinang – Setiap perayaan Idulfitri di Indonesia selalu memiliki nuansa yang khas. Selain identik dengan momen saling memaafkan dan berkumpul bersama keluarga, Lebaran juga menjadi waktu untuk menikmati beragam tradisi budaya yang tersebar di berbagai daerah.

Dilansir dari Seasia.co dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), tradisi Lebaran di Indonesia tidak hanya mencerminkan nilai religius, tetapi juga memperkuat hubungan sosial antar masyarakat.

Lalu, apa saja tradisi Lebaran di berbagai daerah di Indonesia yang masih dilestarikan hingga sekarang? Berikut tujuh di antaranya:

Baca juga: Mengapa Orang Indonesia Selalu Mudik? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Bacaan Lainnya

1. Grebeg Syawal di Yogyakarta

Grebeg Syawal menjadi salah satu tradisi yang cukup dikenal di Indonesia. Tradisi ini digelar oleh Keraton Yogyakarta setiap 1 Syawal sebagai bentuk rasa syukur.

Dalam prosesi ini, gunungan berisi hasil bumi diarak dari keraton menuju Masjid Gedhe Kauman.

Setelah didoakan, masyarakat biasanya mengambil isi gunungan karena dipercaya membawa berkah. Tradisi ini juga mencerminkan hubungan antara pemimpin dan masyarakat.

2. Meugang di Aceh

Menjelang Idulfitri, masyarakat Aceh menjalankan tradisi Meugang. Pada momen ini, keluarga memasak dan menyantap hidangan daging bersama.

Baca juga: Kemarau 2026 Datang Lebih Cepat, Tapi Bisa Jadi Rezeki untuk Nelayan

Selain itu, Meugang juga menjadi waktu untuk berbagi kepada tetangga dan kerabat. Tradisi ini mengajarkan nilai kepedulian sosial dan kebersamaan.

3. Bakar Gunung Api di Bengkulu

Malam takbiran di Bengkulu diramaikan dengan tradisi Bakar Gunung Api. Warga menyusun batok kelapa menyerupai gunung, lalu membakarnya.

Cahaya api yang dihasilkan menjadi simbol semangat dan kebahagiaan dalam menyambut Idulfitri setelah menjalani Ramadan.

Baca juga: Kenapa Harus Lihat Hilal untuk Tentukan Hari Raya Idulfitri? Ini Penjelasannya

4. Perang Topat di Lombok

Di Lombok, Nusa Tenggara Barat, terdapat tradisi Perang Topat yang dilakukan oleh masyarakat Sasak bersama umat Hindu di Pura Lingsar.

Masyarakat saling melempar ketupat sebagai simbol rasa syukur atas hasil panen. Tradisi ini berlangsung dalam suasana damai dan menjadi contoh kerukunan antarumat beragama.

5. Festival Meriam Karbit di Pontianak

Pontianak memiliki tradisi khas berupa Festival Meriam Karbit saat malam takbiran. Meriam yang terbuat dari kayu dinyalakan menggunakan karbit sehingga menghasilkan suara yang khas.

Tradisi ini sudah berlangsung lama dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat setempat dalam menyambut Idulfitri.

6. Dugderan di Semarang

Di Semarang, tradisi Dugderan menjadi penanda datangnya Idulfitri. Kegiatan ini biasanya diisi dengan pesta rakyat dan kehadiran maskot Warak Ngendog.

Warak Ngendog melambangkan perpaduan budaya Jawa, Arab, dan Tionghoa yang hidup berdampingan di masyarakat.

7. Halal Bihalal

Selain tradisi daerah, halal bihalal menjadi tradisi yang dilakukan di hampir seluruh wilayah Indonesia.

Kegiatan ini biasanya diisi dengan saling bersalaman dan bermaafan, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun tempat kerja. Halal bihalal memperkuat nilai silaturahmi setelah Idulfitri.

Beragam tradisi Lebaran di Indonesia menunjukkan kekayaan budaya yang masih terjaga hingga saat ini.

Setiap daerah memiliki cara tersendiri dalam merayakan Idulfitri, namun tetap memiliki nilai yang sama, yaitu kebersamaan, rasa syukur, dan saling menghargai.

Lebaran bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga menjadi momen untuk mempererat hubungan dengan sesama.

Melestarikan tradisi ini menjadi salah satu cara untuk menjaga identitas budaya Indonesia.(*)

Editor: Brm

Pos terkait