Kurawalmedia, Tanjungpinang – Musim kemarau 2026 diprediksi datang lebih awal, mulai April. Kondisi ini biasanya identik dengan kekeringan di daratan, namun di sektor kelautan justru bisa membawa dampak positif melalui fenomena yang disebut Upwelling.
Fenomena ini menjadi perhatian peneliti, karena berperan penting dalam meningkatkan kesuburan laut dan ketersediaan sumber daya ikan.
Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Widodo Pranowo, menjelaskan bahwa awal musim kemarau memicu munculnya angin timur yang kuat.
Baca juga: Kenapa Harus Lihat Hilal untuk Tentukan Hari Raya Idulfitri? Ini Penjelasannya
Angin ini mendorong air laut di permukaan menjauh dari pantai. Sebagai gantinya, air dari lapisan laut dalam yang lebih dingin dan kaya nutrien naik ke permukaan.
“Massa air yang terangkat ini membawa ‘pupuk alami’ berupa nitrat dan fosfat. Ketika mencapai permukaan yang kaya sinar matahari, terjadi fotosintesis oleh fitoplankton,” jelasnya dilansir dari Humas BRIN.
Bagaimana Upwelling Meningkatkan Kesuburan Laut?
Ketika nutrien dari dasar laut naik ke permukaan, fitoplankton berkembang lebih cepat.
Fitoplankton ini menjadi dasar rantai makanan di laut, yang kemudian menarik ikan-ikan untuk datang ke wilayah tersebut.
Proses ini membuat produktivitas laut meningkat, terutama di wilayah selatan Indonesia.
Dalam risetnya, Widodo menyebut fenomena upwelling di selatan Jawa memiliki karakteristik khas yang dikenal sebagai RATU (Semi-permanent Java Coastal Upwelling).
Baca juga: Mengapa Orang Indonesia Selalu Mudik? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Penelitian ini memanfaatkan teknologi Argo Float, yaitu alat robotik yang bisa menyelam hingga kedalaman 2.000 meter untuk merekam data suhu dan salinitas laut secara real-time.
Ikan Diprediksi Melimpah
Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah selatan Jawa hingga Nusa Tenggara menjadi area penting bagi migrasi dan pemijahan ikan bernilai ekonomi tinggi.
Beberapa jenis ikan yang dipengaruhi antara lain tuna sirip biru selatan, cakalang, dan tuna mata besar.
Selain itu, ikan pelagis kecil seperti lemuru juga diprediksi akan meningkat, terutama di Selat Bali.
Baca juga: Bukan Cuma Ketupat, Ini 7 Tradisi Lebaran di Indonesia yang Jarang Diketahui
Perkembangan fitoplankton diperkirakan mulai terjadi pada April–Mei 2026, meningkat pada Juni, dan mencapai puncaknya pada Juli–Agustus 2026.
Pengaruh El Niño dan Ketahanan Pangan
Fenomena El Niño juga berpotensi memperkuat upwelling jika terjadi pada 2026. Dampaknya, wilayah dengan potensi ikan melimpah bisa semakin luas di perairan Indonesia.
Di sisi lain, El Niño biasanya menyebabkan kekeringan di daratan. Kondisi ini bisa memengaruhi produksi pangan dari sektor pertanian.
Namun, peningkatan produktivitas laut berpotensi menjadi alternatif sumber pangan.
Karena itu, pemantauan kondisi laut dan atmosfer secara berkelanjutan menjadi hal penting untuk menjaga ketahanan pangan nasional, khususnya dari sektor kelautan.(*)
Editor: Brm





