Krisis Air di Pulau Bintan, Waduk Gesek Surut Drastis

Krisis Air di Pulau Bintan, Waduk Gesek Surut Drastis
Akibat kemarau berkepanjangan dan krisis air di Pulau Bintan, Waduk Gesek surut drastis. Foto: PDAM Tirta Kepri

kurawalmedia.com, Tanjungpinang – Akibat kemarau berkepanjangan dan krisis air yang melanda Pulau Bintan, Waduk Gesek surut drastis hingga kering.

Dampak dari krisis air tersebut membuat distribusi air bersih untuk ribuan pelanggan di Kabupaten Bintan dan Kota Tanjungpinang, mengalami gangguan.

Ketinggian air di Waduk Gesek saat ini dilaporkan menyusut drastis, hanya tersisa sekitar 30 sentimeter dari kondisi normal yang mencapai 2 meter.

Baca juga: Kapolres dan Bupati Bintan Tinjau Pos Mudik 2026, Bagikan 90 Tiket Gratis untuk Warga

Bacaan Lainnya

Penurunan signifikan dan krisis air ini memaksa pihak pengelola melakukan penyesuaian distribusi air bersih kepada masyarakat.

Direktur PDAM Tirta Kepri Abdul Kholik, mengatakan penyaluran air baku dari Waduk Gesek sempat dihentikan sementara akibat kondisi tersebut.

Namun kini, kata Kholik, operasional pendistribusian air bersih telah kembali berjalan normal meskipun dengan kapasitas yang terbatas.

“Beberapa waktu lalu sempat dihentikan, sekarang sudah beroperasi kembali, tetapi memang belum maksimal,” ujarnya, Selasa (24/3/2026).

Baca juga: Pelabuhan SBP Tanjungpinang Masuk 5 Terpadat di Indonesia Saat Mudik Lebaran 2026

Kholik menjelaskan, pasokan air dari Waduk Gesek kini hanya mampu melayani pelanggan di wilayah sekitar Gesek hingga kawasan Batu 10, Tanjungpinang.

Sementara untuk wilayah lainnya di Tanjungpinang, distribusi air dialihkan menggunakan sumber dari Waduk Sungai Pulai.

“Pelayanan hanya untuk jalur pendek, dari IPA Gesek sampai pertigaan Batu 10. Selebihnya disuplai dari Sungai Pulai,” jelasnya.

Musim Kemarau Hingga Juli 2026

Sementara itu, Kepala BMKG Tanjungpinang Ahmad Kosasih, menyebut wilayah Kepri, diprediksi mengalami musim kemarau pada Mei hingga Juli 2026.

Berdasarkan analisis BMKG, sekitar 57 persen wilayah Kepri diperkirakan mengalami musim yang lebih kering dari kondisi normal.

Khusus Pulau Bintan, jelas Ahmad, curah hujan pada Maret 2026 tergolong rendah, berkisar antara 50 hingga 100 milimeter.

“Kondisi ini dipengaruhi lemahnya fenomena global seperti ENSO dan IOD, sehingga kemarau berpotensi lebih panjang,” jelasnya.

Baca juga: Bukan Cuma Amankan Mudik, Ini Prioritas Polres Bintan di Operasi Ketupat 2026

Selain berdampak pada ketersediaan air bersih, masyarakat juga diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan.

Minimnya curah hujan di Pulau Bintan serta angin yang bertiup cukup kencang, dinilai dapat mempercepat penyebaran api.

“Akibar krisis air, masyarakat harus waspada kebakaran lahan yang dipicu kondisi cuaca kering dan angin kencang,” pungkasnya. (Yto)

Editor: Mya

Pos terkait