Telan APBN Rp92 Miliar, Waduk Kawal Bintan Nganggur Empat Tahun

Waduk Kawal, Bintan telah selesai dibangun sejak 2019 lalu. Foto : BWS Sumatera IV

“Seharusnya pembangunan itu berjalan seiringan, apalagi melibatkan beberapa instansi. Seperti sekarang ini, Waduknya sudah selesai, tetapi harus menunggu proyek dari Satker lain,” cetusnya. 

Jika memang kebutuhan ini menjadi atensi, seharusnya berjalan secara simultan. Berdasarkan analisasi neraca air baku oleh BWS Sumatera IV, pada 2016 lalu defisit air di Pulau Bintan adalah 211 liter perdetik. 

Apabila tidak ada embung atau waduk yang segera dibangun, maka pada 2022 defisit air baku di Pulau Bintan mencapai pada angka 948 liter perdetik.

Harapan jangka panjang untuk menuntaskan persoalan defisit air baku di Pulau Bintan hanya melalui Dam Busung, Bintan. Karena kawasan tersebut memiliki daerah tangkapan air sebesar 126 meter persegi. 

Bacaan Lainnya

Adapun rencananya adalah 2.500 liter perdetik untuk kebutuhan Kota Batam. Sementara itu 1.500 untuk kebutuhan Pulau Bintan.

“Daftar tunggu terus bertambah, sementara PDAM terbatas kemapuannya dalam penyediaan air bersih. Kalau tidak segera diperkuat dengan Waduk Kawal, kebutuhan air akan menjadi persoalan besar kedepannya,” tegas Rudy Chua. 

Seperti diketahui, pembangunan Waduk Kawal secara keseluruhan adalah sebesar Rp92 miliar yang bersumber dari APBN melaui Satker Kementerian PUPR, Balai Wilayah Sungai Sumatera IV (BWS IV). 

Pembangunan dimulai pada 2017 lalu dengan alokasi sebesar Rp22 miliar. Kemudian pada tahun 2018 dialokasikan Rp67,6 miliar. 

Selanjut pada 2019  adalah sebesar Rp5 miliar. Adapun berdasarkan Detail Engineering Design (DED) infrastruktur dibidang perairan tersebut dibangun diatas lahan seluas 400 hektar (ha).(*) 

Editor : Jar

Pos terkait